A CUP ICED MOCHACCINO WITH SWEETEST WAFFLE
Aku tau hari ini
terlalu gelap dan memungkinkan untuk turun hujan, namun permasalahan takan
selesai hanya duduk manis dengan tatapan kosong pada jendela yang berukuran 1 x
1 meter itu. Aku merasa bahwa hari ini tidak memiliki teman, namun orang di
luaran sana melihat aku bergerombol kesana kemari layaknya anak ayam. Aku
selalu menghindari ajakan teman-teman, entahlah apa yang aku lakukan.. namun
pada saat ini aku hanya memikirkan satu hal
“aku terlalu malas untuk bercengkrama, tak boleh
ada seorang pun yang tahu keadaan ku saat ini karna akupun tak tahu mengapa aku
seperti ini.”
Tak lama dari itu
dia menyapa dan bertanya “oy! Apakabar kaleee lemes aee..” tepukan tangannya
pada bahuku yang cukup keras. “hehe iya baiklaah, hooh lemes aee yeuhh, mau
kemana ?” jawabnya, “hayuu atuh ikut kepanitiaan biar sibuk gituhh haha, ini
juga mau rapat” “hahaha sok aja wehh kalemm”.
Memang.. aku menyadari prilaku aku
ini sangat membatasi teman – temanku untuk menyapa hari ini, namun hanya satu
yang aku pikirkan pada saat itu “perlu saya hangout
?!” tanpa basa basi lagi aku mangkir dari kesibukan rapat para mahasiswa yang
katanya sudah melebihi anggota DPR itu.
Sore itu aku membeli iced mochaccino dirasa
minuman itu cukup mampu menenangkan pikiran, nyatanya aku semakin berfantasi yang
cukup rumit untuk diceritakan. “Tapi tak apa.. setidaknya teman - temanku tidak
melihat betapa terpuruknya aku saat ini”. Kita punya kegiatan yang berbeda
–beda dengan tingkat kesibukan yang berbeda pula, aku merasa teman – temanku
tak ada yang sepadan dengan pikiranku yang membuat situasi semakin rumit
dikarnakan aku terlalu melibatkan perasaan. Nampaknya aku menjauhi teman –
temanku sendiri karna aku pikir tak satupun dari mereka yang memahami diriku.
“ mbak.. ini dessert-nya selamat
menikmati..”
“ ohyaa.. makasih.”
Sweetest waffle yang dipadupadankan dengan segelas iced mochaccino cukup menarik. Aku
membayangkan mereka saling bercengkrama menceritakan apa yang telah terjadi.
Tercipta kehangatan meskipun mereka berbeda dan perpaduan yang tak pas aku
rasa. Waffle harusnya disajikan dengan tea atau sesuatu yang menghangatkan
tubuh, sedangkan mochaccino iced dinikmati dengan matahari yang cukup terik
akan sangat menyegarkan dahaga. Aku pun sadar kalo mereka mengetahui satu sama
lain bahwa sifat mereka yang berbeda, namun ketika aku menikmati mereka berdua
secara bersamaan aku rasa tetap selaras.
“Waffle, entahlah aku ngerasa kalo aku terlalu
banyak mikirin sesuatu. Aku ga suka sama keadaan dimana aku ada ditengah.. misal gini yahh satu hal aku dekat dengan seseorang namun secara
bersamaan dia juga ngajak aku nonton sedangkan aku udah punya janji sama temen –
temen yang lain. Tapi dia malah marah cobaa.. yaa aku kan udah berusaha ngomong
juga kalo aku punya janji dan aku ga bakalan tau juga kalo dia mau ajakin aku
main di hari yang sama teruuuss aku juga ga mungkin batalin janji aku yang udah
dibuat lebih dulu.”
Waffle hanya
terdiam, mendengarkan dan menunggu kelanjutan cerita mochacinno. Apa mungkin
keinginan aku itu seperti prilaku waffle pada mocha ?
“Apa aku harus kaya waffle itu ato mochaccino itu
?” “ehh engga – engga.. ya maksudnyaa emm gimana yaa kaya kita dulu yang harus
paham orang lain baru mereka juga mau paham keadaan kamu... “ “ ohiya bener
juga sih kayanya kelakuan aku skarang salah deh “ “tapi emang mereka bakalan
langsung paham aku gitu yaaa “ “henteuuu oge sihh“ “kayanya kalo aku mulai
cerita atau nyapa duluan juga mereka bakalan bales juga sihh” “tapi gimana yaa
takut sih buat mulainya” “nigeleh buat mulainya..” “ tapi deng kalo gini terus
bakalan ngalangin aku pisan sihhh “ “...” “...” “...”
Yapp okeyy stop
aku perhatikan mereka.
Satu jam sudah aku melakukan self talk, dan masnya
memungkinkan melihatku.. maka cukup lelah dan aku ingin segera pulang pada hari
itu.