Selasa, 11 September 2018

JURNALKU #BAB II

A CUP ICED MOCHACCINO WITH SWEETEST WAFFLE

Aku tau hari ini terlalu gelap dan memungkinkan untuk turun hujan, namun permasalahan takan selesai hanya duduk manis dengan tatapan kosong pada jendela yang berukuran 1 x 1 meter itu. Aku merasa bahwa hari ini tidak memiliki teman, namun orang di luaran sana melihat aku bergerombol kesana kemari layaknya anak ayam. Aku selalu menghindari ajakan teman-teman, entahlah apa yang aku lakukan.. namun pada saat ini aku hanya memikirkan satu hal

“aku terlalu malas untuk bercengkrama, tak boleh ada seorang pun yang tahu keadaan ku saat ini karna akupun tak tahu mengapa aku seperti ini.”

Tak lama dari itu dia menyapa dan bertanya “oy! Apakabar kaleee lemes aee..” tepukan tangannya pada bahuku yang cukup keras. “hehe iya baiklaah, hooh lemes aee yeuhh, mau kemana ?” jawabnya, “hayuu atuh ikut kepanitiaan biar sibuk gituhh haha, ini juga mau rapat” “hahaha sok aja wehh kalemm”.

Memang.. aku menyadari prilaku aku ini sangat membatasi teman – temanku untuk menyapa hari ini, namun hanya satu yang aku pikirkan pada saat itu “perlu saya hangout ?!” tanpa basa basi lagi aku mangkir dari kesibukan rapat para mahasiswa yang katanya sudah melebihi anggota DPR itu.
Sore itu aku membeli iced mochaccino dirasa minuman itu cukup mampu menenangkan pikiran, nyatanya aku semakin berfantasi yang cukup rumit untuk diceritakan. “Tapi tak apa.. setidaknya teman - temanku tidak melihat betapa terpuruknya aku saat ini”. Kita punya kegiatan yang berbeda –beda dengan tingkat kesibukan yang berbeda pula, aku merasa teman – temanku tak ada yang sepadan dengan pikiranku yang membuat situasi semakin rumit dikarnakan aku terlalu melibatkan perasaan. Nampaknya aku menjauhi teman – temanku sendiri karna aku pikir tak satupun dari mereka yang memahami diriku.

              “ mbak.. ini dessert-nya selamat menikmati..”
              “ ohyaa.. makasih.”

Sweetest waffle yang dipadupadankan dengan segelas iced mochaccino cukup menarik. Aku membayangkan mereka saling bercengkrama menceritakan apa yang telah terjadi. Tercipta kehangatan meskipun mereka berbeda dan perpaduan yang tak pas aku rasa. Waffle harusnya disajikan dengan tea atau sesuatu yang menghangatkan tubuh, sedangkan mochaccino iced dinikmati dengan matahari yang cukup terik akan sangat menyegarkan dahaga. Aku pun sadar kalo mereka mengetahui satu sama lain bahwa sifat mereka yang berbeda, namun ketika aku menikmati mereka berdua secara bersamaan aku rasa tetap selaras.

“Waffle, entahlah aku ngerasa kalo aku terlalu banyak mikirin sesuatu. Aku ga suka sama keadaan dimana aku ada ditengah.. misal gini yahh satu hal aku dekat dengan seseorang namun secara bersamaan dia juga ngajak aku nonton sedangkan aku udah punya janji sama temen – temen yang lain. Tapi dia malah marah cobaa.. yaa aku kan udah berusaha ngomong juga kalo aku punya janji dan aku ga bakalan tau juga kalo dia mau ajakin aku main di hari yang sama teruuuss aku juga ga mungkin batalin janji aku yang udah dibuat lebih dulu.”

Waffle hanya terdiam, mendengarkan dan menunggu kelanjutan cerita mochacinno. Apa mungkin keinginan aku itu seperti prilaku waffle pada mocha ?

“Apa aku harus kaya waffle itu ato mochaccino itu ?” “ehh engga – engga.. ya maksudnyaa emm gimana yaa kaya kita dulu yang harus paham orang lain baru mereka juga mau paham keadaan kamu... “ “ ohiya bener juga sih kayanya kelakuan aku skarang salah deh “ “tapi emang mereka bakalan langsung paham aku gitu yaaa “ “henteuuu oge sihh“ “kayanya kalo aku mulai cerita atau nyapa duluan juga mereka bakalan bales juga sihh” “tapi gimana yaa takut sih buat mulainya” “nigeleh buat mulainya..” “ tapi deng kalo gini terus bakalan ngalangin aku pisan sihhh “ “...” “...” “...”

Yapp okeyy stop aku perhatikan mereka.

Satu jam sudah aku melakukan self talk, dan masnya memungkinkan melihatku.. maka cukup lelah dan aku ingin segera pulang pada hari itu.


Dalam perjalanan tak banyak aku sadari apa yang telah aku lakukan hari ini, yang jelas untuk awali hari esok perbanyak tebarkan senyum maka kamu akan dapatkan senyuman yang kamu harapkan, pahami setiap prilaku yang muncul maka sesuatu yang sedang terjadi takan kamu rumitkan seperti hari ini. 

Kamis, 29 Maret 2018

JURNALKU #BAB I


Aku menyaksikan peristiwa yang terjadi, namun disayangkan tidak mampu untuk masuk pada peristiwa tersebut. Apa yang membuat aku menjadi seperti ini ? apa aku tidak berperasaan ? atau aku yang selalu menghindari suatu konflik yang sedang terjadi ?

Menjadi orang yang seakan akan tidak mengetahui apa yang sedang terjadi itu dikatakan menyenangkan. Namun bagi aku yang selalu ada diposisi tersebut sangatlah berat. Awalnya aku selalu iba pada orang lain, aku selalu khawatir akan apa yang akan terjadi pada orang tersebut, namun kekhawatiran dan iba tersebut terabaikan. Mereka diterima hanya karna memenuhi status yang disandang. Bahkan pengabaian terebut berlanjut menjadi suatu pengkhianatan. Entah mengapa kekhawatiran, peduli, empati aku menurun begitu saja. Aku pernah bertanya pada diriku sendiri.. sebenarnya apa yang terjadi ?


DARI MULUT KE MULUT

Seorang rekan tingkat akhir dimana dia yang selalu bertingkah lucu, menyenangkan, aktif dan terkadang menyebalkan tapi ia menjadi terdiam disuatu perpustakaan. Membuat aku heran dan memberi kesimpulan bahwa moment ini adalah moment langka ketika menemui dirinya si perpustakaan. Aku dekati meja paling sudut ruangan perpustakaan ini, duduk didampingnya tanpa ada percakapan apapun. Beberapa saat kemudian dia hanya memandang keluar jendela kemudian mengalihkannya padaku seakan ingin menyampaikan sesuatu. Namun hati ini sangat cepat untuk berakhir, dia keluar perpustakaan dengan memegang bahuku dan tanpa sepatah kata apapun. Aku yang ingin menyapanya namun apa daya, hari itu sungguh berat bagiku begitupun dirinya.
              Hari demi hari suasana yang aku khawatirkan begitu sengit untuk dihirup, apakah aku akan bertahan hari ini ? aku berharap ada seseorang yang mampu membantu dirinya untuk tersenyum kembali seperti biasanya. Mengapa tidak aku saja yang menghibur dia ? mengapa aku mengharapkan orang lain meskipun peluang belum terlihat sedikit pun ? aku egois atau lagi lagi sedang menjauhi sebuah konflik ?.

              “ Hi! Sedang apa disini ?”  kusapa dirinya dengan penuh semangat

         Dia hanya tersenyum dan mendorong kursi untuk mempersilahkan aku duduk. Seperti sebelumnya kita hanya terdiam dan mempersibuk diri dengan kegiatan masing-masingnya pada saat itu. Entah hari apa itu, awan hitam menyelimuti langit diikuti hembusan angin meskipun tak ada jendela yang terbuka. Suasana terlalu mencekam untuk aku bertanya padanya “ada apa ?”. Akhirnya aku terdiam dan memandangnya..

“Aku memang tak sepintar dirinya, namun aku tetap memiliki tujuan untuk masa depanku akan seperti apa!”

Tegas ia katakan, erat genggamnya pada lengan ini, satu tetes air matanya jatuh dikedua bola mata ini. Tepukan tangan perlahanku hanya bisa mewakili semuanya..

“Jangan kamu ceritakan kembali ku mohon..”
“Ada apa dengan dirimu ? ceritakanlah, mungkin setelah itu aku dapat memahami semuanya ..”

Kita habiskan waktu ditempat yang sama, dan mulut yang tak berhenti. Banyak hal yang diutarakan oleh dirinya, mengenai kebenciannya pada seseorang. Aku tidak ingin terlibat dengan masalah ini.. kukatakan dalam hati. Aku hanya memberikan saran kepadanya..

“aku pun pernah merasa terpencil seperti kamu sekarang, apakah aku tidak sakit hati ? kemudian apa yang aku lakukan ? kamu mau tahu ? aku sama seperti kamu.. aku membencinya dan berusaha untuk smua orang merasa benci juga pada dirinya, namun apa yang aku dapatkan ? lelah!”
“lalu apa yang kamu lakukan selanjutnya ? kamu terdiam saja ?”
“iya aku terdiam, aku tidak tenar seperti mereka.. aku mundur dari kelompoknya dan aku menjauhinya dan mengatakan bahwa aku bisa dan bertanggung jawab atas kemunduran ini. Awalnya aku ragu untuk melakukan ini semua, aku takut sendiri dan tidak mampu untuk menjalani ini semua. Namun aku tau kondisi aku sekarang dan keyakinan ini yang semakin bulat maka aku bisa.”
“tapi.. aku bukan kamu”
“ya aku tahu.. namun maksud aku disini bukan kamu harus mundur dan menyerah seperti aku. Aku hanya ingin kamu tidak perlu membencinya, banyak mata yang akan menyaksikan betapa menjengkelkannya dia tanpa harus kamu bercerita dari satu orang ke orang lain”

Aku tak tahu apakah perkataanku menyakitinya atau tidak, aku tidak bermaksud untuk mempermalukan pemikirannya pada waktu itu. Hanya saja aku membantu jangan sampai dia dipandang rendah karna perilakunya tersebut oleh orang lain yang tidak tahu latar belakangnya.
Percakapan tak berujung manis, namun hati mulai membaik dan awan mengijinkan kita untuk pulang dengan senyum yang sedikit terurai..