Aku menyaksikan peristiwa yang terjadi, namun disayangkan tidak
mampu untuk masuk pada peristiwa tersebut. Apa yang membuat aku menjadi
seperti ini ? apa aku tidak berperasaan ? atau aku yang selalu menghindari
suatu konflik yang sedang terjadi ?
Menjadi orang
yang seakan akan tidak mengetahui apa yang sedang terjadi itu dikatakan
menyenangkan. Namun bagi aku yang selalu ada diposisi tersebut sangatlah berat.
Awalnya aku selalu iba pada orang lain, aku selalu khawatir akan apa yang akan
terjadi pada orang tersebut, namun kekhawatiran dan iba tersebut terabaikan.
Mereka diterima hanya karna memenuhi status yang disandang. Bahkan pengabaian
terebut berlanjut menjadi suatu pengkhianatan. Entah mengapa kekhawatiran,
peduli, empati aku menurun begitu saja. Aku pernah bertanya pada diriku
sendiri.. sebenarnya apa yang terjadi ?
DARI MULUT KE MULUT
Seorang rekan tingkat akhir dimana dia yang selalu bertingkah lucu,
menyenangkan, aktif dan terkadang menyebalkan tapi ia menjadi terdiam disuatu
perpustakaan. Membuat aku heran dan memberi kesimpulan bahwa moment ini adalah
moment langka ketika menemui dirinya si perpustakaan. Aku dekati meja paling
sudut ruangan perpustakaan ini, duduk didampingnya tanpa ada percakapan apapun.
Beberapa saat kemudian dia hanya memandang keluar jendela kemudian
mengalihkannya padaku seakan ingin menyampaikan sesuatu. Namun hati ini sangat cepat untuk berakhir, dia keluar perpustakaan dengan memegang bahuku dan tanpa sepatah kata
apapun. Aku yang ingin menyapanya namun apa daya, hari itu sungguh berat bagiku
begitupun dirinya.
Hari demi hari suasana yang aku
khawatirkan begitu sengit untuk dihirup, apakah aku akan bertahan hari ini ?
aku berharap ada seseorang yang mampu membantu dirinya untuk tersenyum kembali
seperti biasanya. Mengapa tidak aku saja yang menghibur dia ? mengapa aku
mengharapkan orang lain meskipun peluang belum terlihat sedikit pun ? aku egois
atau lagi lagi sedang menjauhi sebuah konflik ?.
“ Hi! Sedang apa disini ?” kusapa
dirinya dengan penuh semangat
Dia hanya tersenyum dan mendorong
kursi untuk mempersilahkan aku duduk. Seperti sebelumnya kita hanya terdiam dan
mempersibuk diri dengan kegiatan masing-masingnya pada saat itu. Entah hari apa
itu, awan hitam menyelimuti langit diikuti hembusan angin meskipun tak ada
jendela yang terbuka. Suasana terlalu mencekam untuk aku bertanya padanya “ada
apa ?”. Akhirnya aku terdiam dan memandangnya..
“Aku memang tak sepintar
dirinya, namun aku tetap memiliki tujuan untuk masa depanku akan seperti apa!”
Tegas ia katakan,
erat genggamnya pada lengan ini, satu tetes air matanya jatuh dikedua bola mata
ini. Tepukan tangan perlahanku hanya bisa mewakili semuanya..
“Jangan kamu ceritakan
kembali ku mohon..”
“Ada apa dengan dirimu ?
ceritakanlah, mungkin setelah itu aku dapat memahami semuanya ..”
Kita habiskan
waktu ditempat yang sama, dan mulut yang tak berhenti. Banyak hal yang
diutarakan oleh dirinya, mengenai kebenciannya pada seseorang. Aku tidak ingin
terlibat dengan masalah ini.. kukatakan dalam hati. Aku hanya memberikan saran
kepadanya..
“aku pun pernah merasa
terpencil seperti kamu sekarang, apakah aku tidak sakit hati ? kemudian apa
yang aku lakukan ? kamu mau tahu ? aku sama seperti kamu.. aku membencinya dan
berusaha untuk smua orang merasa benci juga pada dirinya, namun apa yang aku dapatkan
? lelah!”
“lalu apa yang kamu lakukan
selanjutnya ? kamu terdiam saja ?”
“iya aku terdiam, aku tidak
tenar seperti mereka.. aku mundur dari kelompoknya dan aku menjauhinya dan mengatakan
bahwa aku bisa dan bertanggung jawab atas kemunduran ini. Awalnya aku ragu
untuk melakukan ini semua, aku takut sendiri dan tidak mampu untuk menjalani
ini semua. Namun aku tau kondisi aku sekarang dan keyakinan ini yang semakin
bulat maka aku bisa.”
“tapi.. aku bukan kamu”
“ya aku tahu.. namun maksud
aku disini bukan kamu harus mundur dan menyerah seperti aku. Aku hanya ingin
kamu tidak perlu membencinya, banyak mata yang akan menyaksikan betapa
menjengkelkannya dia tanpa harus kamu bercerita dari satu orang ke orang lain”
Aku tak tahu apakah
perkataanku menyakitinya atau tidak, aku tidak bermaksud untuk mempermalukan
pemikirannya pada waktu itu. Hanya saja aku membantu jangan sampai dia
dipandang rendah karna perilakunya tersebut oleh orang lain yang tidak tahu
latar belakangnya.
Percakapan tak
berujung manis, namun hati mulai membaik dan awan mengijinkan kita untuk pulang
dengan senyum yang sedikit terurai..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar