Kamis, 29 Maret 2018

JURNALKU #BAB I


Aku menyaksikan peristiwa yang terjadi, namun disayangkan tidak mampu untuk masuk pada peristiwa tersebut. Apa yang membuat aku menjadi seperti ini ? apa aku tidak berperasaan ? atau aku yang selalu menghindari suatu konflik yang sedang terjadi ?

Menjadi orang yang seakan akan tidak mengetahui apa yang sedang terjadi itu dikatakan menyenangkan. Namun bagi aku yang selalu ada diposisi tersebut sangatlah berat. Awalnya aku selalu iba pada orang lain, aku selalu khawatir akan apa yang akan terjadi pada orang tersebut, namun kekhawatiran dan iba tersebut terabaikan. Mereka diterima hanya karna memenuhi status yang disandang. Bahkan pengabaian terebut berlanjut menjadi suatu pengkhianatan. Entah mengapa kekhawatiran, peduli, empati aku menurun begitu saja. Aku pernah bertanya pada diriku sendiri.. sebenarnya apa yang terjadi ?


DARI MULUT KE MULUT

Seorang rekan tingkat akhir dimana dia yang selalu bertingkah lucu, menyenangkan, aktif dan terkadang menyebalkan tapi ia menjadi terdiam disuatu perpustakaan. Membuat aku heran dan memberi kesimpulan bahwa moment ini adalah moment langka ketika menemui dirinya si perpustakaan. Aku dekati meja paling sudut ruangan perpustakaan ini, duduk didampingnya tanpa ada percakapan apapun. Beberapa saat kemudian dia hanya memandang keluar jendela kemudian mengalihkannya padaku seakan ingin menyampaikan sesuatu. Namun hati ini sangat cepat untuk berakhir, dia keluar perpustakaan dengan memegang bahuku dan tanpa sepatah kata apapun. Aku yang ingin menyapanya namun apa daya, hari itu sungguh berat bagiku begitupun dirinya.
              Hari demi hari suasana yang aku khawatirkan begitu sengit untuk dihirup, apakah aku akan bertahan hari ini ? aku berharap ada seseorang yang mampu membantu dirinya untuk tersenyum kembali seperti biasanya. Mengapa tidak aku saja yang menghibur dia ? mengapa aku mengharapkan orang lain meskipun peluang belum terlihat sedikit pun ? aku egois atau lagi lagi sedang menjauhi sebuah konflik ?.

              “ Hi! Sedang apa disini ?”  kusapa dirinya dengan penuh semangat

         Dia hanya tersenyum dan mendorong kursi untuk mempersilahkan aku duduk. Seperti sebelumnya kita hanya terdiam dan mempersibuk diri dengan kegiatan masing-masingnya pada saat itu. Entah hari apa itu, awan hitam menyelimuti langit diikuti hembusan angin meskipun tak ada jendela yang terbuka. Suasana terlalu mencekam untuk aku bertanya padanya “ada apa ?”. Akhirnya aku terdiam dan memandangnya..

“Aku memang tak sepintar dirinya, namun aku tetap memiliki tujuan untuk masa depanku akan seperti apa!”

Tegas ia katakan, erat genggamnya pada lengan ini, satu tetes air matanya jatuh dikedua bola mata ini. Tepukan tangan perlahanku hanya bisa mewakili semuanya..

“Jangan kamu ceritakan kembali ku mohon..”
“Ada apa dengan dirimu ? ceritakanlah, mungkin setelah itu aku dapat memahami semuanya ..”

Kita habiskan waktu ditempat yang sama, dan mulut yang tak berhenti. Banyak hal yang diutarakan oleh dirinya, mengenai kebenciannya pada seseorang. Aku tidak ingin terlibat dengan masalah ini.. kukatakan dalam hati. Aku hanya memberikan saran kepadanya..

“aku pun pernah merasa terpencil seperti kamu sekarang, apakah aku tidak sakit hati ? kemudian apa yang aku lakukan ? kamu mau tahu ? aku sama seperti kamu.. aku membencinya dan berusaha untuk smua orang merasa benci juga pada dirinya, namun apa yang aku dapatkan ? lelah!”
“lalu apa yang kamu lakukan selanjutnya ? kamu terdiam saja ?”
“iya aku terdiam, aku tidak tenar seperti mereka.. aku mundur dari kelompoknya dan aku menjauhinya dan mengatakan bahwa aku bisa dan bertanggung jawab atas kemunduran ini. Awalnya aku ragu untuk melakukan ini semua, aku takut sendiri dan tidak mampu untuk menjalani ini semua. Namun aku tau kondisi aku sekarang dan keyakinan ini yang semakin bulat maka aku bisa.”
“tapi.. aku bukan kamu”
“ya aku tahu.. namun maksud aku disini bukan kamu harus mundur dan menyerah seperti aku. Aku hanya ingin kamu tidak perlu membencinya, banyak mata yang akan menyaksikan betapa menjengkelkannya dia tanpa harus kamu bercerita dari satu orang ke orang lain”

Aku tak tahu apakah perkataanku menyakitinya atau tidak, aku tidak bermaksud untuk mempermalukan pemikirannya pada waktu itu. Hanya saja aku membantu jangan sampai dia dipandang rendah karna perilakunya tersebut oleh orang lain yang tidak tahu latar belakangnya.
Percakapan tak berujung manis, namun hati mulai membaik dan awan mengijinkan kita untuk pulang dengan senyum yang sedikit terurai..