Minggu, 27 Oktober 2019

JURNALKU #BAB III

APAKAH KAMU BERNILAI KETIKA RASAMU HANYA UNTUK DIRIMU SENDIRI ?

       “Hey! bisa kamu pelankan suara kesombonganmu ?”

Rasanya mulutku ingin berkata demikian dihadapannya. Keherananku bergejolak, mengapa dia sangat senang sekali menunjukkan siapa dirinya ? apakah ini bermula dari kesalahanku sendiri ? Atau karna aku terlalu berlebih untuk dirinya ?. Pikirku tak berhenti disitu sampai dengan Ibuku memanggil tuk siapkan makan malam.

       “Ah! Aku tak peduli beribu kali ku tak peduliii pada apa yang ia lakukan!”
       “Buu.. ayo kita makan..” senyumku pada ibu tuk tutupi perasaan kesal ini. 

Terbayang setiap tutur kata yang telah ia lontarkan padaku maupun orang lain, sehingga membuat hati ini tersayat. Entah orang lain dapat merasakan sayatan itu atau tidak, atau mungkin mereka merasakannya.. namun hanya bisa terdiam dan menahan air mata agar tidak terjatuh.. itupun sudah cukup. Tapi rasanya aku tak bisa biarkan itu terus berlarut.
         
Malam ini seharusnya aku tidur cepat, tapi pikiranku membuat aku terjaga sampai dengan menjelang pagi. Gemas rasanya jika hanya aku yang menderita dan harus selalu memikirkan semua perilaku yang sudah ia lakukan, sedang ia merasa baik diluaran sana. Apa yang sebenarnya terjadi dengan jiwa dia atau bahkan ada yang salah dengan jiwaku ?. Suatu hari dengan tak sengaja aku memergoki dirinya berulah kembali, tak ada sangkut paut denganku.. hanya saja telingaku menjadi terfokus pada obrolannya.

        “ya gw tau rasanya.. tapi dia ga salah-salah banget sih, orang lu ngomong kaya gitu, jd siapa yg bego ? ya eluu lah, mustinya nih ya lu bla bla bla..”
             
Kuremas kertas dibawa meja dan inginku masukkan kertas ini pada bibir jahat itu. Tapi apa dayaku.. menahan diri hal terbaik dengan mukaku memerah sampai dengan ia bertanya padaku

         “kenapa lu ?”
            
Balas ku padanya hanya dengan senyum dan kemudian ia melanjutkan pembicaraannya dengan lantang, tegas, namun menyakiti temannya. Tak terdengar keluhan dari temanku satu ini.. hanya saja ia terlihat mengurungkan niatnya untuk terbuka dan bercerita lebih lanjut. Disini aku gelisah, karna aku tak banyak membantu tuk hentikan semua ini.

Sore itu aku pulang.. Apakah aku salah membiarkan perilaku temanku bertutur seperti itu kepada temanku yang lain ? Tentu salah dan aku serba salah. Aku putuskan malam ini tuk hubungi temanku dan kemudian kami berbicara.

Hampir beberapa pekan ini aku tidak pernah bertemu dengan dia, apakah karna ulahku yang membuat dirinya menjauh dariku, ternyata bukan.. ia hanya berlibur tanpa memberitahu kami satupun. Setelah berlibur harapku besar padanya untuk berbaik hati pada semua orang. Namun nyatanya, diluar nalar ini ia mencemoohkan aku dihadapan teman barunya dengan tertawa lantang. Usahaku telah menumbuhkan rasa kecewa yang cukup berat hingga aku ingin berbalik jika menemuinya.

Tak terasa satu mata kuliah telah terlewati dan aku tidak mendapatkan apa – apa, padahal Ibuku sudah menabung demi membayar 2 sks ini, dan aku membuang waktu tersebut hanya untuk memikirkan orang tersebut. Rasa kesalku semakin menjadi, hingga teman – teman terdekatku tak mau kusapa, aku takut mereka mengkhawatirkanku.

“hah.. udahlah.. aku cuma pengen tenang dan hentikan semuanya. Berusaha meluruskan situasi tapi malah banyak pihak yang dirugiin. Kesel! padahal kita udah temenan lama tapi begitu kelakuannya.. makin parah! Aku harap dia mau mikirin kondisi orang lain dulu sebelum ngasih saran, menggurui, bahkan ngomelin serasa dirinya bener!”

Senyum ku semakin tak sempurna meskipun ditemani terbenamnya matahari sore itu, telah ku lupakan segalanya dan aku taruh harapan untuk kami yang lebih baik kedepannya. 

Aku sakit karna sikapmu, kamu begitu karna diriku juga ?. Aku rasa tetap berbaiklah satu sama lain, karna hal itu menunjukkan berapa nilaimu sebenarnya.