APAKAH KAMU BERNILAI KETIKA RASAMU HANYA UNTUK
DIRIMU SENDIRI ?
“Hey! bisa kamu pelankan suara
kesombonganmu ?”
Rasanya mulutku ingin berkata
demikian dihadapannya. Keherananku bergejolak, mengapa dia sangat senang sekali
menunjukkan siapa dirinya ? apakah ini bermula dari kesalahanku sendiri ? Atau
karna aku terlalu berlebih untuk dirinya ?. Pikirku tak berhenti disitu sampai
dengan Ibuku memanggil tuk siapkan makan malam.
“Ah! Aku tak peduli beribu kali ku
tak peduliii pada apa yang ia lakukan!”
“Buu.. ayo kita makan..” senyumku
pada ibu tuk tutupi perasaan kesal ini.
Terbayang setiap tutur kata yang telah ia lontarkan padaku maupun orang
lain, sehingga membuat hati ini tersayat. Entah orang lain dapat merasakan
sayatan itu atau tidak, atau mungkin mereka merasakannya.. namun hanya bisa
terdiam dan menahan air mata agar tidak terjatuh.. itupun sudah cukup. Tapi
rasanya aku tak bisa biarkan itu terus berlarut.
Malam ini seharusnya aku tidur cepat, tapi pikiranku membuat aku terjaga
sampai dengan menjelang pagi. Gemas rasanya jika hanya aku yang menderita dan
harus selalu memikirkan semua perilaku yang sudah ia lakukan, sedang ia merasa
baik diluaran sana. Apa yang sebenarnya terjadi dengan jiwa dia atau bahkan ada
yang salah dengan jiwaku ?. Suatu hari dengan tak sengaja aku memergoki dirinya
berulah kembali, tak ada sangkut paut denganku.. hanya saja telingaku menjadi
terfokus pada obrolannya.
“ya gw tau rasanya.. tapi dia ga salah-salah banget sih, orang lu ngomong kaya gitu, jd siapa yg bego ? ya eluu lah, mustinya nih ya lu bla bla bla..”
Kuremas kertas dibawa meja dan
inginku masukkan kertas ini pada bibir jahat itu. Tapi apa dayaku.. menahan
diri hal terbaik dengan mukaku memerah sampai dengan ia bertanya padaku
“kenapa lu ?”
Balas ku padanya hanya dengan senyum dan kemudian ia melanjutkan
pembicaraannya dengan lantang, tegas, namun menyakiti temannya. Tak terdengar
keluhan dari temanku satu ini.. hanya saja ia terlihat mengurungkan niatnya
untuk terbuka dan bercerita lebih lanjut. Disini aku gelisah, karna aku tak
banyak membantu tuk hentikan semua ini.
Sore itu aku pulang.. Apakah aku salah membiarkan perilaku temanku bertutur
seperti itu kepada temanku yang lain ? Tentu salah dan aku serba salah. Aku
putuskan malam ini tuk hubungi temanku dan kemudian kami berbicara.
Hampir beberapa pekan ini aku
tidak pernah bertemu dengan dia, apakah karna ulahku yang membuat dirinya
menjauh dariku, ternyata bukan.. ia hanya berlibur tanpa memberitahu kami
satupun. Setelah berlibur harapku besar padanya untuk berbaik hati pada semua
orang. Namun nyatanya, diluar nalar ini ia mencemoohkan aku dihadapan teman barunya
dengan tertawa lantang. Usahaku telah menumbuhkan rasa kecewa yang cukup berat
hingga aku ingin berbalik jika menemuinya.
Tak terasa satu mata kuliah telah terlewati dan aku tidak mendapatkan apa –
apa, padahal Ibuku sudah menabung demi membayar 2 sks ini, dan aku membuang
waktu tersebut hanya untuk memikirkan orang tersebut. Rasa kesalku semakin
menjadi, hingga teman – teman terdekatku tak mau kusapa, aku takut mereka
mengkhawatirkanku.
“hah.. udahlah.. aku cuma pengen tenang dan hentikan semuanya. Berusaha meluruskan
situasi tapi malah banyak pihak yang dirugiin. Kesel! padahal kita udah temenan
lama tapi begitu kelakuannya.. makin parah! Aku harap dia mau mikirin kondisi
orang lain dulu sebelum ngasih saran, menggurui, bahkan ngomelin serasa dirinya
bener!”
Senyum ku
semakin tak sempurna meskipun ditemani terbenamnya matahari sore itu, telah ku lupakan
segalanya dan aku taruh harapan untuk kami yang lebih baik kedepannya.
Aku sakit karna sikapmu, kamu begitu karna diriku juga ?. Aku rasa tetap berbaiklah satu sama lain, karna hal itu menunjukkan berapa nilaimu sebenarnya.
Aku sakit karna sikapmu, kamu begitu karna diriku juga ?. Aku rasa tetap berbaiklah satu sama lain, karna hal itu menunjukkan berapa nilaimu sebenarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar