Masalah kita berbeda, kemampuan kita berbeda, cara pandang kita berbeda. Cukup dengan tidak mencampuri urusanku, itu sudah membantu kami tuk bertahan dan berbahagia. Mari hargai setiap langkah yang sedang ditempuh, ucapanmu tak pernah terduga apakah akan menjadi taman bunga Tulip yang menenangkan atau samurai untuk orang lain.
Cerita Fantasi Amatir
cerita pendek melibatkan unsur fantasi sehingga memberi kesan amatir, terinspirasi dari kehidupan sekitar
Rabu, 05 Agustus 2020
Minggu, 03 Mei 2020
Minggu, 27 Oktober 2019
JURNALKU #BAB III
APAKAH KAMU BERNILAI KETIKA RASAMU HANYA UNTUK
DIRIMU SENDIRI ?
“Hey! bisa kamu pelankan suara
kesombonganmu ?”
Rasanya mulutku ingin berkata
demikian dihadapannya. Keherananku bergejolak, mengapa dia sangat senang sekali
menunjukkan siapa dirinya ? apakah ini bermula dari kesalahanku sendiri ? Atau
karna aku terlalu berlebih untuk dirinya ?. Pikirku tak berhenti disitu sampai
dengan Ibuku memanggil tuk siapkan makan malam.
“Ah! Aku tak peduli beribu kali ku
tak peduliii pada apa yang ia lakukan!”
“Buu.. ayo kita makan..” senyumku
pada ibu tuk tutupi perasaan kesal ini.
Terbayang setiap tutur kata yang telah ia lontarkan padaku maupun orang
lain, sehingga membuat hati ini tersayat. Entah orang lain dapat merasakan
sayatan itu atau tidak, atau mungkin mereka merasakannya.. namun hanya bisa
terdiam dan menahan air mata agar tidak terjatuh.. itupun sudah cukup. Tapi
rasanya aku tak bisa biarkan itu terus berlarut.
Malam ini seharusnya aku tidur cepat, tapi pikiranku membuat aku terjaga
sampai dengan menjelang pagi. Gemas rasanya jika hanya aku yang menderita dan
harus selalu memikirkan semua perilaku yang sudah ia lakukan, sedang ia merasa
baik diluaran sana. Apa yang sebenarnya terjadi dengan jiwa dia atau bahkan ada
yang salah dengan jiwaku ?. Suatu hari dengan tak sengaja aku memergoki dirinya
berulah kembali, tak ada sangkut paut denganku.. hanya saja telingaku menjadi
terfokus pada obrolannya.
“ya gw tau rasanya.. tapi dia ga salah-salah banget sih, orang lu ngomong kaya gitu, jd siapa yg bego ? ya eluu lah, mustinya nih ya lu bla bla bla..”
Kuremas kertas dibawa meja dan
inginku masukkan kertas ini pada bibir jahat itu. Tapi apa dayaku.. menahan
diri hal terbaik dengan mukaku memerah sampai dengan ia bertanya padaku
“kenapa lu ?”
Balas ku padanya hanya dengan senyum dan kemudian ia melanjutkan
pembicaraannya dengan lantang, tegas, namun menyakiti temannya. Tak terdengar
keluhan dari temanku satu ini.. hanya saja ia terlihat mengurungkan niatnya
untuk terbuka dan bercerita lebih lanjut. Disini aku gelisah, karna aku tak
banyak membantu tuk hentikan semua ini.
Sore itu aku pulang.. Apakah aku salah membiarkan perilaku temanku bertutur
seperti itu kepada temanku yang lain ? Tentu salah dan aku serba salah. Aku
putuskan malam ini tuk hubungi temanku dan kemudian kami berbicara.
Hampir beberapa pekan ini aku
tidak pernah bertemu dengan dia, apakah karna ulahku yang membuat dirinya
menjauh dariku, ternyata bukan.. ia hanya berlibur tanpa memberitahu kami
satupun. Setelah berlibur harapku besar padanya untuk berbaik hati pada semua
orang. Namun nyatanya, diluar nalar ini ia mencemoohkan aku dihadapan teman barunya
dengan tertawa lantang. Usahaku telah menumbuhkan rasa kecewa yang cukup berat
hingga aku ingin berbalik jika menemuinya.
Tak terasa satu mata kuliah telah terlewati dan aku tidak mendapatkan apa –
apa, padahal Ibuku sudah menabung demi membayar 2 sks ini, dan aku membuang
waktu tersebut hanya untuk memikirkan orang tersebut. Rasa kesalku semakin
menjadi, hingga teman – teman terdekatku tak mau kusapa, aku takut mereka
mengkhawatirkanku.
“hah.. udahlah.. aku cuma pengen tenang dan hentikan semuanya. Berusaha meluruskan
situasi tapi malah banyak pihak yang dirugiin. Kesel! padahal kita udah temenan
lama tapi begitu kelakuannya.. makin parah! Aku harap dia mau mikirin kondisi
orang lain dulu sebelum ngasih saran, menggurui, bahkan ngomelin serasa dirinya
bener!”
Senyum ku
semakin tak sempurna meskipun ditemani terbenamnya matahari sore itu, telah ku lupakan
segalanya dan aku taruh harapan untuk kami yang lebih baik kedepannya.
Aku sakit karna sikapmu, kamu begitu karna diriku juga ?. Aku rasa tetap berbaiklah satu sama lain, karna hal itu menunjukkan berapa nilaimu sebenarnya.
Aku sakit karna sikapmu, kamu begitu karna diriku juga ?. Aku rasa tetap berbaiklah satu sama lain, karna hal itu menunjukkan berapa nilaimu sebenarnya.
Selasa, 11 September 2018
JURNALKU #BAB II
A CUP ICED MOCHACCINO WITH SWEETEST WAFFLE
Aku tau hari ini
terlalu gelap dan memungkinkan untuk turun hujan, namun permasalahan takan
selesai hanya duduk manis dengan tatapan kosong pada jendela yang berukuran 1 x
1 meter itu. Aku merasa bahwa hari ini tidak memiliki teman, namun orang di
luaran sana melihat aku bergerombol kesana kemari layaknya anak ayam. Aku
selalu menghindari ajakan teman-teman, entahlah apa yang aku lakukan.. namun
pada saat ini aku hanya memikirkan satu hal
“aku terlalu malas untuk bercengkrama, tak boleh
ada seorang pun yang tahu keadaan ku saat ini karna akupun tak tahu mengapa aku
seperti ini.”
Tak lama dari itu
dia menyapa dan bertanya “oy! Apakabar kaleee lemes aee..” tepukan tangannya
pada bahuku yang cukup keras. “hehe iya baiklaah, hooh lemes aee yeuhh, mau
kemana ?” jawabnya, “hayuu atuh ikut kepanitiaan biar sibuk gituhh haha, ini
juga mau rapat” “hahaha sok aja wehh kalemm”.
Memang.. aku menyadari prilaku aku
ini sangat membatasi teman – temanku untuk menyapa hari ini, namun hanya satu
yang aku pikirkan pada saat itu “perlu saya hangout
?!” tanpa basa basi lagi aku mangkir dari kesibukan rapat para mahasiswa yang
katanya sudah melebihi anggota DPR itu.
Sore itu aku membeli iced mochaccino dirasa
minuman itu cukup mampu menenangkan pikiran, nyatanya aku semakin berfantasi yang
cukup rumit untuk diceritakan. “Tapi tak apa.. setidaknya teman - temanku tidak
melihat betapa terpuruknya aku saat ini”. Kita punya kegiatan yang berbeda
–beda dengan tingkat kesibukan yang berbeda pula, aku merasa teman – temanku
tak ada yang sepadan dengan pikiranku yang membuat situasi semakin rumit
dikarnakan aku terlalu melibatkan perasaan. Nampaknya aku menjauhi teman –
temanku sendiri karna aku pikir tak satupun dari mereka yang memahami diriku.
“ mbak.. ini dessert-nya selamat
menikmati..”
“ ohyaa.. makasih.”
Sweetest waffle yang dipadupadankan dengan segelas iced mochaccino cukup menarik. Aku
membayangkan mereka saling bercengkrama menceritakan apa yang telah terjadi.
Tercipta kehangatan meskipun mereka berbeda dan perpaduan yang tak pas aku
rasa. Waffle harusnya disajikan dengan tea atau sesuatu yang menghangatkan
tubuh, sedangkan mochaccino iced dinikmati dengan matahari yang cukup terik
akan sangat menyegarkan dahaga. Aku pun sadar kalo mereka mengetahui satu sama
lain bahwa sifat mereka yang berbeda, namun ketika aku menikmati mereka berdua
secara bersamaan aku rasa tetap selaras.
“Waffle, entahlah aku ngerasa kalo aku terlalu
banyak mikirin sesuatu. Aku ga suka sama keadaan dimana aku ada ditengah.. misal gini yahh satu hal aku dekat dengan seseorang namun secara
bersamaan dia juga ngajak aku nonton sedangkan aku udah punya janji sama temen –
temen yang lain. Tapi dia malah marah cobaa.. yaa aku kan udah berusaha ngomong
juga kalo aku punya janji dan aku ga bakalan tau juga kalo dia mau ajakin aku
main di hari yang sama teruuuss aku juga ga mungkin batalin janji aku yang udah
dibuat lebih dulu.”
Waffle hanya
terdiam, mendengarkan dan menunggu kelanjutan cerita mochacinno. Apa mungkin
keinginan aku itu seperti prilaku waffle pada mocha ?
“Apa aku harus kaya waffle itu ato mochaccino itu
?” “ehh engga – engga.. ya maksudnyaa emm gimana yaa kaya kita dulu yang harus
paham orang lain baru mereka juga mau paham keadaan kamu... “ “ ohiya bener
juga sih kayanya kelakuan aku skarang salah deh “ “tapi emang mereka bakalan
langsung paham aku gitu yaaa “ “henteuuu oge sihh“ “kayanya kalo aku mulai
cerita atau nyapa duluan juga mereka bakalan bales juga sihh” “tapi gimana yaa
takut sih buat mulainya” “nigeleh buat mulainya..” “ tapi deng kalo gini terus
bakalan ngalangin aku pisan sihhh “ “...” “...” “...”
Yapp okeyy stop
aku perhatikan mereka.
Satu jam sudah aku melakukan self talk, dan masnya
memungkinkan melihatku.. maka cukup lelah dan aku ingin segera pulang pada hari
itu.
Kamis, 29 Maret 2018
JURNALKU #BAB I
Aku menyaksikan peristiwa yang terjadi, namun disayangkan tidak
mampu untuk masuk pada peristiwa tersebut. Apa yang membuat aku menjadi
seperti ini ? apa aku tidak berperasaan ? atau aku yang selalu menghindari
suatu konflik yang sedang terjadi ?
Menjadi orang
yang seakan akan tidak mengetahui apa yang sedang terjadi itu dikatakan
menyenangkan. Namun bagi aku yang selalu ada diposisi tersebut sangatlah berat.
Awalnya aku selalu iba pada orang lain, aku selalu khawatir akan apa yang akan
terjadi pada orang tersebut, namun kekhawatiran dan iba tersebut terabaikan.
Mereka diterima hanya karna memenuhi status yang disandang. Bahkan pengabaian
terebut berlanjut menjadi suatu pengkhianatan. Entah mengapa kekhawatiran,
peduli, empati aku menurun begitu saja. Aku pernah bertanya pada diriku
sendiri.. sebenarnya apa yang terjadi ?
DARI MULUT KE MULUT
Seorang rekan tingkat akhir dimana dia yang selalu bertingkah lucu,
menyenangkan, aktif dan terkadang menyebalkan tapi ia menjadi terdiam disuatu
perpustakaan. Membuat aku heran dan memberi kesimpulan bahwa moment ini adalah
moment langka ketika menemui dirinya si perpustakaan. Aku dekati meja paling
sudut ruangan perpustakaan ini, duduk didampingnya tanpa ada percakapan apapun.
Beberapa saat kemudian dia hanya memandang keluar jendela kemudian
mengalihkannya padaku seakan ingin menyampaikan sesuatu. Namun hati ini sangat cepat untuk berakhir, dia keluar perpustakaan dengan memegang bahuku dan tanpa sepatah kata
apapun. Aku yang ingin menyapanya namun apa daya, hari itu sungguh berat bagiku
begitupun dirinya.
Hari demi hari suasana yang aku
khawatirkan begitu sengit untuk dihirup, apakah aku akan bertahan hari ini ?
aku berharap ada seseorang yang mampu membantu dirinya untuk tersenyum kembali
seperti biasanya. Mengapa tidak aku saja yang menghibur dia ? mengapa aku
mengharapkan orang lain meskipun peluang belum terlihat sedikit pun ? aku egois
atau lagi lagi sedang menjauhi sebuah konflik ?.
“ Hi! Sedang apa disini ?” kusapa
dirinya dengan penuh semangat
Dia hanya tersenyum dan mendorong
kursi untuk mempersilahkan aku duduk. Seperti sebelumnya kita hanya terdiam dan
mempersibuk diri dengan kegiatan masing-masingnya pada saat itu. Entah hari apa
itu, awan hitam menyelimuti langit diikuti hembusan angin meskipun tak ada
jendela yang terbuka. Suasana terlalu mencekam untuk aku bertanya padanya “ada
apa ?”. Akhirnya aku terdiam dan memandangnya..
“Aku memang tak sepintar
dirinya, namun aku tetap memiliki tujuan untuk masa depanku akan seperti apa!”
Tegas ia katakan,
erat genggamnya pada lengan ini, satu tetes air matanya jatuh dikedua bola mata
ini. Tepukan tangan perlahanku hanya bisa mewakili semuanya..
“Jangan kamu ceritakan
kembali ku mohon..”
“Ada apa dengan dirimu ?
ceritakanlah, mungkin setelah itu aku dapat memahami semuanya ..”
Kita habiskan
waktu ditempat yang sama, dan mulut yang tak berhenti. Banyak hal yang
diutarakan oleh dirinya, mengenai kebenciannya pada seseorang. Aku tidak ingin
terlibat dengan masalah ini.. kukatakan dalam hati. Aku hanya memberikan saran
kepadanya..
“aku pun pernah merasa
terpencil seperti kamu sekarang, apakah aku tidak sakit hati ? kemudian apa
yang aku lakukan ? kamu mau tahu ? aku sama seperti kamu.. aku membencinya dan
berusaha untuk smua orang merasa benci juga pada dirinya, namun apa yang aku dapatkan
? lelah!”
“lalu apa yang kamu lakukan
selanjutnya ? kamu terdiam saja ?”
“iya aku terdiam, aku tidak
tenar seperti mereka.. aku mundur dari kelompoknya dan aku menjauhinya dan mengatakan
bahwa aku bisa dan bertanggung jawab atas kemunduran ini. Awalnya aku ragu
untuk melakukan ini semua, aku takut sendiri dan tidak mampu untuk menjalani
ini semua. Namun aku tau kondisi aku sekarang dan keyakinan ini yang semakin
bulat maka aku bisa.”
“tapi.. aku bukan kamu”
“ya aku tahu.. namun maksud
aku disini bukan kamu harus mundur dan menyerah seperti aku. Aku hanya ingin
kamu tidak perlu membencinya, banyak mata yang akan menyaksikan betapa
menjengkelkannya dia tanpa harus kamu bercerita dari satu orang ke orang lain”
Aku tak tahu apakah
perkataanku menyakitinya atau tidak, aku tidak bermaksud untuk mempermalukan
pemikirannya pada waktu itu. Hanya saja aku membantu jangan sampai dia
dipandang rendah karna perilakunya tersebut oleh orang lain yang tidak tahu
latar belakangnya.
Percakapan tak
berujung manis, namun hati mulai membaik dan awan mengijinkan kita untuk pulang
dengan senyum yang sedikit terurai..
Selasa, 08 November 2016
#BernasibKurang
Pertama, si aku ini akan memperkenalkan diri ke kalian, tapi perkenalan itu
ga mesti tau nama ya jadi kalian cukup panggil si aku aja. Si aku ini lebih
suka ngegambarin fisik daripada sebut nama, kenapa? Karna kalau kita ketemu disuatu
hari nanti, kamu bisa langsung panggil aku “hei! Si aku” gitu. Nah mari saling
perkenalkan diri, si aku ini berpostur ideallah yaa. Si aku badannya tinggi,
langsing, kalo ikutan ajang model emang udah pasti lulus sih, tapi si aku emang
sengaja aja ngga ikutan ajang itu karna tujuan hidup si aku ini bukan jadi
model. Wajah udah ga usah dibandingin lagi yang pasti hidung oke, tirus
dan pipi merona, bibir oke, goresan alis hampir sempurna, mata kaya hasil
operasi plastik ala korea tapi ini asli. Nah teruss rambut si aku ini lurus
hitam sepanjang bahu, enaklah untuk dimainin. Untuk kulit yang pastinya mulus
ya. Udah tergambarkan diri aku seperti apa, yang pasti pakaian yang si aku
pakai ini selalu menyesuaikan situasinya seperti apa.
Perkenalan cukup segitu saja,
nanti kalo sekiranya kalian bertemu dengan si aku ini jangan sungkan-sungkan
menyapa karna aku ngga sombong, jadi pasti aku terima sapaan kalian. Si aku
sebenarnya ingin berbagi cerita saja pada kalian, tapi mungkin cerita si aku ini
ga semenarik fisik aku, ya meskipun begitu tapi si aku tetap akan memaksa
kalian buat baca cerita si akulah. Si aku baru-baru ini ngalamin kejadian yang mengenaskan,
kan si aku tuh udah lama gaada yang deketin, ya si aku juga sadar bahwa cantik
itu ga menjamin buat punya pasangan. Nah terus tiba tiba kemarin itu ada yang
deketin si aku. Dikarnakan si aku trauma deket sama cowo jadi tingkah laku si
aku terhadap cowo itu emang dijaga biar ga baper. Di kemudian hari kita itu
sering sekegiatan bareng, terus si aku juga sebenernya bingung kenapa tiba-tiba
jadi semuanya serba barengan, tapi yasudahlah karna si aku ga ambil pusing maka
aku cuma berpikir ini hanya sebuah kebetulan saja. Tapi ternyata yang dianggap
kebetulan si aku itu salah, cowo ini mulai nakal mulai nunjukin tentang rasa
dianya ke si aku. Si aku malah mulai takut dong awal-awalnya, eh tapi cewe mana
sih yang ga baper kalo di ajakin jalan mulu.
Biasanya nih kalo cewe yang udah
mulai baper, dia juga udah mulai nyari sepercik-dua percik informasi profile
cowonya. Nah si aku ini mulai nanya teman sepermainannya kalo cowo itu kaya
gimana, baik atau engga, dan banayak hal lainnya sampe ke mantan-mantannya kaya
gimana. Kenapa cewe sampe berprilaku kaya tadi? Cewe pada dasarnyakan banyak
menggunakan perasaan dan ingin mencari hal yang dapat meyakini hatinya, nah
lewat informasi yang didapat mungkin bisa bikin cewe tersebut jadi sedikit yakin
sama cowo yang lagi deketinnya dan karna itu pula cewe gamau main-main kalau
masalah perasaan, singkatnya seperti itu. Nah selesai si aku cari informasi,
ternyata ada satu informasi yang buat si aku jadi ragu sama cowo tersebut.
Ternyata eh ternyata si cowo itu baru putus sama pacarnya beberapa hari yang
lalu. Kebiasaan seorang cewe kalo masalah perasaan pasti sangat sensitif. Si
aku ini langsung berpikir ko bisa ya cowo yang baru putus beberapa hari
kemudian langsung deketin cewe baru, si aku ga berhenti pikir.. jangan-jangan
deketin aku karna buat pelampiasan dia aja gitu ya?. Si aku karna cewe langsung
cerita ke temen sekamar kos aku, cerita cewe biasanyakan dari awal sampe hal
yang ga pentingnya juga diceritain, intinya sedetail mungkin sampe ngabisin
waktu. Respon dari temen-temen si aku juga bilang kalo cowo itu tuh kayanya
cuma ngejadiin kamu pelampiasan karna putus dari cewenya, trus si aku jadi
disuruh jauh sama cowo itu, jangan ada baper-baperan lagi.
Makin hari, cowo itu makin
ngedeketin dan makin bikin si aku baper. Mulai dari bercandaan, main, makan,
nonton, curhat-curhatan. Semua itu buat si aku yakin kalo cowo tersebut bukan
cowo yang suka ngelampiasin rasa kecewanya karna habis putus. Si aku mulai
percaya sama cowo itu, dan mengabaikan perkataan teman si aku. Kedekatan kita
mulai lancar dan baik-baik aja, tapi tanpa status tanpa bilang kalo kita
pacaran. Si aku juga terheran-heran sama teman-teman aku yang ngebiarin aku
jalan sama cowo itu, si aku berpikir lagi mungkin.. mereka pengen ngeliat sampe
berapa lama si aku ini bertahan sama cowo itu.. tapi yasudahlah si aku ini
orangnya ga pernah ambil pusingkan, jadi si aku cuma mau buktiin kalo perkataan
mereka salah.
Beberapa bulan deket sama cowo
itu. Tiba-tiba temen si aku ini nanya “udah jadian? Mau sampe kapan?” si aku
emang belom bisa buktiin ke dia kalo kita bakalan jadian, tapi si aku cuma
bilang “on process”. Si aku pulang ngampus langsung ke kosan karna bete sama
pertanyaan tadi, tapi sebelum sampe kosan dan masih dijalan si aku inget mau
ngambil tugas yang dibantuin si cowo itu tadi malem dan yasudah lalu si aku ini
berencana ke kosan cowonya yang gajauh dari posisi si aku sekarang. Perasaan
cewe itu selalu paling utama, paling peka, dan ga pernah bohong. Tiba-tiba si
aku ngerasa gaenak hati, rasanya pengen langsung pulang ke kosan aja tapi
tanggung udah mau sampe kosan cowonya yaudahlah dilanjutin aja ngambil tugasnya
kata si aku tuh. Sesampainya di kosan cowo itu ada mobil yang ga pernah diliat
sama si aku, tapi si aku tetap positive thinking aja sihh.. mungkin mobil baru
temennya. Ternyata eh ternyata, ketika si aku buka pintu kosan cowo ituu..
yasudahlah gausah diceritain ya teman-teman.
Si aku tutup lagi aja pintunya dan
langsung pergi pulang. Si aku tahan biar ga nangis dulu karna malu dijalan
banyak orang, dan takut ada yang kenal. Harapan seorang cewe biasanya ingin
dikejar sama orang yang dicintainya kan ya, eh ternyata si aku gagal jadi
seorang cewe dan gagal jadi orang yang dicintai orang lain, karna nyatanya gaada
yang ngejar atau nahan si aku. Si aku disitu kadang berpikir kenapa Tuhan ngga
adil banget sama si aku yang punya fisik oke ini di kasih kejadian yang
mengerikan seperti ini. Kebayangkan situasi si aku kagetnya hari itu gimana,dan
si aku ga berani cerita sama siapa siapa termasuk sama temen deket si aku, si
aku jadi nyalahin diri sendiri “kenapa gw bodoh, kenapa harus segampang itu
percaya sama orang, kenapa gw ga pernah turut apa kata temen, malah temen deket
gw”. Si aku mulai lebay di hari itu dengan menyalahkan diri sendiri, mulai
blokir account cowo itu dan segala hal dilakuin agar jauh dari cowo tersebut.
Namanya orang kalau lagi emosi
bakalan kebawa emosi sampe ga bisa berpikir jernih lagi, tapi si aku
bersyukurnya bisa handle masalah ini meski dalam waktu yang lama. Si aku ini
mulai sadar kalau Tuhan itu baik dan tunjukin hal yang memang terbaik buat si
aku, dan si aku mulai memperdulikan hal-hal kecil yang sebelumnya belum pernah
diperhatikan dan sekarang rasa trauma akan kejadian itu makin melekat apalagi
untuk dekat dengan cowo lagi, dan karna kejadian ini si aku jadi lebih pemilih
dan mengutamakan saran diri sendiri dan melibatkan saran dari orang lain. #SiAkuBernasibKurang
Sabtu, 11 Oktober 2014
SADARI TUJUANMU
Dalam kehidupan mungkin jalan pikir mereka semua berbeda, perbedaan itulah yang membuat mungkin kita bersatu atau pun saling toleransi. Banyak orang yang ingin kan itu. Tetapi dunia ini bukanlah sekedar penuh oleh impian yang indah yang lagi lagi mungkin hidup dengan keadaan mulus tanpa terdapat goresan apapun. Tetapi dunia yang memang memberitahu, menunjukan kepada kita bahwa kita yang harus hadapi keadaan yang sebenarnya dengan mungkin tanpa ketoleransian orang sekitar, kita tetap harus bisa membawa tujuan hidup kita dengan mulus. Kemana tujuan hidup kita, untuk siapa hidup kita, kita pula tak tahu mengapa kita dilahirkan, tentunya Tuhan telah mengetahui tujuan kita sejak awal yang memang benar-benar bermanfaat bagi semua yang tercipta dimuka bumi. Hanya satu hal yang harus kita tempuh yaitu apakah kita akan mencari tujuan itu dimulai dari sekarang dengan kemampuan yang kita miliki juga usaha yang memang menggebu? Banyak orang yang telah berhasil tetapi dalam pandangan duniawi, mungkin untuk pandangan kehidupan selanjutnya mereka belum tentu berhasil. Maka dari itu tak pernah ada seorang pun yang sempurna dalam hal apapun.
Kelahiran kita oleh Tuhan telah ditempatkan dengan sesempurna mungkin, dalam segala hal. Tinggal kita cari tahu mulai sekarang. Kita semua yang dilahirkan di dunia ini tentunya di berbagai negara, ini sebuah petunjuk apa yang saya harus lakukan dinegara ini, lalu kita lebih tepatnya dilahirkan di sebuah kota yang memang mungkin berbagai keadaan bisa terjadi. Hal tersebut pula menjadikan sebuah petunjuk yang sudah terngiang apa tujuan kita semua. Lalu mengapa kita dilahirkan pada tahun ini mengapa kita tidak dilahirkan beberapa abad yang lalu. Jika dilahirkan bersamaan dengan pahlawan terdahulu mungkin kita mempunyai nasib yang sama dengan pahlawan atau pun sebaliknya akan menjadi biasa saja atau tidak menutup kemungkinan menjadi benalu. Maka dari itu kita dilahiran pada generasi sekarang karna tuhan jadikan kita semua penerus dunia ini mungkin juga untuk mempertahankan dunia ini dan menjadikan manusia yang lebih berguna. Masih banyak hal yang dirancanakan oleh tuhan, dan Tuhan sudah mengetahui untuk apa, jadi apa kita semua dilahirkan selengkap itu, Hal itulah yang membuat sebuah tujuan yang memang harus diraih oleh kita semua. Maka dalam hal ini kita tetap memperhatikan apa yang akan kita tuju jangan sampai kita salah langkah. Kesalah mungkin dapat jadikan pola pikir kita berubah.
Langganan:
Komentar (Atom)




















